I'll Become a Villainess That Will Go Down in History Chapter 390

 Disclaimer: Novel bukan punyakuuu


Sesaat setelah aku masuk ke dalam kamar kakek, aku merasa sangat kaget.

Aku tidak pernah melihat kakek dalam kondisi seperti ini.

Aku ingin sekali lari dari kenyataan, tapi perlahan aku berjalan menghampirinya yang sedang berbaring di atas kasur.

Aku tidak melihat sosok kuat yang selalu mendukungku. Wajah kakek sudah dipenuhi bintik-bintik hijau. Pipinya menyusut, dan tatapannya sedikit kosong. Sepertinya berat badan kakek berkurang dengan drastis.

Aku sudah sering melihat orang-orang yang memiliki badan kurus kering, selalu kelelahan, dan bahkan mayat desa Roana adalah desa yang dipenuhi dengan orang-orang yang seperti itu.

Kupikir aku sudah terbiasa melihat kondisi seperti itu, tapi saat aku melihat sosok kakek yang semakin melemah hatiku terasa sangat sakit.

Kakek tersenyum lemah ke arahku, kepalanya terus berada di bantal. Mungkin kakek sudah tidak memiliki kekuatan untuk duduk.

Semakin tua usia penderita, semakin cepat perkembangan penyakit bintik…. Aku akhirnya kembali tersadar saat aku melihat kondisi kakek.

“Maafkan aku. Aku hanya ingin bertemu denganmu…”

“Kemarilah.” Ucap kakek dengan suara lembut. Dia menepuk-nepuk kasurnya untuk menyuruhku duduk.

“Maafkan aku…. Kau malah melihat kondisiku yang seperti ini.”

Suara kakek terdengar lebih lemah daripada biasanya. Aku merasa jika kakek bisa menghilang kapan saja.

“Tidak, tidak apa-apa. Aku sudah menyelesaikan obat untuk kakek.”

Aku menunjukkan botol yang berisi Maddie pada kakek. Saat itulah aku bisa melihat kakek membelalakkan mata emasnya.

“…. Kau berhasil mendapatkan Maddie?”

“Aku mencampur Lipsim, Tolchis, dan Currant…. Aku belum melakukan uji klinis, tapi aku yakin ramuan ini punya komponen yang sama dengan Maddie.”

Aku menjelaskannya pada kakek dengan suara yakin.

Kakek menerima botol yang kuulurkan.

…. Dengan tangan kurusnya.

Kakek masih tetap membantu orang lain dengan seluruh kekuatannya—sama seperti saat kami berada di desa Roana—Meski kondisinya sudah separah ini.

Kakek membuka penutup botolnya dengan satu tangan dan mencium aroma ramuan yang ada di dalamnya. Tubuhku terasa kaku dengan semua gestur yang dia tunjukkan padaku.

“Aroma manis, larutan oranye….” Gumamnya.

Aku bisa melihat matanya yang mulai bersinar. Dia menatap botol itu dengan mata emas yang bersih.

…. Dulu aku pernah mendengar kakek berkata jika mata Alicia sangat spesial.

Apa mata itu punya kemampuan menilai suatu objek?.... Atau mungkin matanya terlalu tajam?

Setelah diam selama beberapa detik, kakek memuji hasil kerja kerasku. “Kau benar-benar melakukannya, kan?”

Aku menepuk dadaku saat mendengarnya.

“Alicia berkata padaku jika semuanya akan baik-baik saja.”

Kakek tersenyum lembut.

Aku ingin berkata, “Jika Alicia memberi persetujuan, itu artinya dia baik-baik saja.” Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Yang bisa kulakukan hanya tersenyum sambil menahan tangis.

Kakek menjulurkan tangannya dan meletakkannya di atas kepalaku.

Tangan kakek. Tangan favoritku.

“Padahal kau sangat kecil dulu…. Sekarang kau sudah besar ya, Gilles.”

Setelah mendengarnya, pertahananku langsung runtuh. Aku bisa merasakan aliran panas menuruni pipiku.

Padahal aku sudah berjanji tidak akan menangis di depan kakek…. Tapi aku tidak bisa melakukannya.

“Apa aku bisa berdiri di samping* Alicia?”
*) Mungkin yang dimaksud Gilles itu apa dia bisa setara dengan Alicia. Agak saya rubah biar mirip sama yang dibawah.

“Sejak awal kau selalu berdiri di samping Alicia, Gilles.”

Kakek menepuk pelan kepalaku.

Aku ingin terus begini selamanya.

“Kakek, kau harus meminum ramuan ini.”

Ucapku dengan nada cerita. Kakek terlihat sedih, tapi dia langsung tersenyum untuk menenangkanku.

Tidak banyak yang kuinginkan…. Aku hanya ingin kakek berada sedikit lebih lama di sampingku.

Begitu ucapku dalam hati.

“Terima kasih.”

Kata ‘terima kasih’ yang kuucapkan adalah bentuk ‘terima kasih’ paling dalam yang pernah kudengar. Dadaku dipenuhi oleh perasaan hangat.

Aku yakin kata ‘terima kasih’ itu memiliki banyak arti.

Tidak hanya untuk ramuan yang kubuat, tapi juga semua yang terjadi sejak aku bertemu dengan kakek.

 

Chapter 389     Daftar Isi     Chapter 391


Komentar

Postingan Populer