ORV Chapter 371: Episode 70 – A story that can’t be shared (3)

Disclaimer: Novel ini bukan punya sayaa
Happy reading guuyzz😉


Segera setelah dia membuka matanya, Han Sooyoung langsung memuntahkan darah yang ada di mulutnya.

Setelah Han Sooyoung memuntahkan cukup banyak darah berwarna hitam pekat ke tanah, perasaannya menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya. Hal pertama yang dia lihat adalah hutan lebat yang membentang luas, tapi ini bukan hutan tempatnya bertarung dengan Yoo Joonghyuk beberapa saat yang lalu.

“Aku benar-benar hampir mati tadi. Dasar bajingan kau, Yoo Joonghyuk.”

Jika dia tidak memindahkan ingatannya ke salah satu Avatar nya di detik-detik terakhir, dia pasti sudah benar-benar mati.

[Kau sudah menggunakan otoritas ‘Memory Transfer’ yang tersedia untuk hari ini.]

[Mulai detik ini, Avatar yang telah dipilih akan menjadi tubuh aslimu.]

Han Sooyoung sudah menebak jika hal seperti ini pasti akan terjadi.

[Cerita ‘Predictive Plagiarism’ merasa ragu saat ingin menceritakan kisahnya.]

Han Sooyoung bisa melihat beberapa ‘scene’ dengan jelas melalui cerita Bernama ‘Predictive Plagiarism’. Itu adalah cerita yang dia dapatkan setelah mengalami mimpi aneh itu.

Misalnya dia bisa melihat berbagai macam masa depan tergantung dari pilihan yang dia ambil. Kematian Kim Dokja, atau mungkin kematian Yoo Joonghyuk. Dia juga bisa melihat masa depan dimana dua pilihan buruk itu bisa dihindari.

[Karena penalti dari ‘Memory Transfer’, kemampuan fisikmu akan dilemahkan selama beberapa saat.]

“Kalau sampai salah satu dari mereka mati…. Aku bersumpah akan…!”

Han Sooyoung terus mengeluh sambil terus berusaha untuk merasakan gelombang energi sihir dari sekelilingnya. Sekarang dia sedang berusaha menentukan lokasi dari Kim Dokja dan Yoo Joonghyuk.

Beberapa saat kemudian Indera Han Sooyoung berhasil merasakan dua ‘status’ kuat. Karena itu dia langsung berlari ke arah tersebut.

Dari semua masa depan yang dia baca dan lihat, ini adalah ‘satu-satunya masa depan yang paling bagus’. Kim Dokja tidak mati, dan untuk pertama kalinya dua orang itu bisa saling mencurahkan perasaan masing-masing.

Itulah prediksi yang dibuat Han Sooyoung setelah melihat masa depan dengan ‘Predictive Plagiarism’. Dan karena alasan itu jugalah dia tidak menghindari sabetan pedang Yoo Joonghyuk. Semua itu dia lakukan agar Kim Dokja bisa tetap hidup.

Di saat yang sama, dia bisa mendengar suara dua pedang yang saling beradu.

‘…. Apa mereka masih bertarung?’

‘Dua idiot itu…. Waktu aku mati, kupikir mereka bisa saling bicara dari hati ke hati, tapi ini….’

Han Sooyoung sadar jika dia harus memberi wejangan yang keras pada mereka berdua. Tapi saat dia tiba di tempat yang dia tuju, apa yang dilihatnya membuatnya bergetar ketakutan.

Kwa-aaang!! Bang!!!

Yoo Joonghyuk sedang mengayunkan pedangnya tanpa ampun ke arah Kim Dokja yang sekarang terkapar lemah di tanah.

“Hei, berhenti menyerangnya kau orang gila!”

***

‘…. Kurasa cara ini tidak akan berhasil?’

Yoo Joonghyuk mengamati Kim Dokja yang terbaring tidak sadarkan diri di tanah. Dia bisa melihat luka dari Dark Heavenly Demon Sword dengan jelas di bagian dadanya.

‘Tapi, sepertinya aku baru saja melihatnya.’

Yoo Joonghyuk memegang pedangnya dengan erat dan kemudian memusatkan pikirannya. Sesaat kemudian dia bisa merasakan aura gelap yang keluar dari tubuh Kim Dokja.

Itu adalah ‘dinding’. Identitas dari ‘keanehan’ yang dia rasakan setiap kali dia menatap Kim Dokja.

‘Aku bisa melihatnya.’

Yoo Joonghyuk bisa melihat dinding hitam pekat yang terdiri dari banyak kata dan kalimat. Laki-laki itu mengangkat pedangnya tinggi-dinggi dan memusatkan kekuatannya untuk menghancurkan dinding itu.

Yoo Joonghyuk mulai menyerang dinding itu dengan serius. Di sisi lain, dinding yang selama ini menyelimuti Kim Dokja mulai bergetar keras.

[‘Fourth Wall’ menatapmu dengan tajam.]

Yoo Joonghyuk tidak peduli apakah dinding itu memelototinya atau tidak, yang penting dia akan terus menyerangnya tanpa ampun.

‘Di balik dinding ini…. Mungkin dia….’

Jika dinding ini tidak mau terbuka, maka Yoo Joonghyuk akan terus menyerangnya sampai dinding itu terbuka untuknya. Dia tidak akan berhenti sebelum itu terjadi. Dia akan menyerangnya lagi dan lagi.

Tapi…

“Hei, kau laki-laki gila! Apa kau sudah kehilangan akalmu!?”

Bersamaan dengan teriakan itu, Yoo Joonghyuk merasakan pukulan keras di bagian belakang kepalanya dan seketika darah mengalir hingga menutupi pandangannya. Dari balik tirai merah darah itu, dia bisa melihat Han Sooyoung yang sedang berlutut di samping Kim Dokja.

“Hei, Kim Dokja! Bertahanlah! Bangun… Apa-apaan ini!? Dia belum mati, kan?”

Alis Yoo Joonghyuk menekuk semakin tajam dan kemudian dia berkata.

“Han Sooyoung, kau benar-benar ingin mati hari ini?”

“Kau sudah membunuhku sekali. Tidak ingat apa?”

“Aku tahu kau tidak akan mati begitu saja.”

“Berhenti bercanda. Aktingku tidak sebagus itu, tahu.”

Han Sooyoung menggeram marah sambil menunjuk tubuh inkarnasinya (yang menjadi tubuh utamanya hingga beberapa saat yang lalu) yang masih terbaring tidak jauh dari mereka.

Tubuh Inkarnasi Han Sooyoung perlahan mulai menghilang, tapi darah masih tetap mengucur keluar dari luka yang ada di tubuhnya. Sebuah ‘Avatar’ tidak akan bisa mengeluarkan darah seperti itu.

Yoo Joonghyuk berkata dengan nada datar, “Avatar tetap bisa mengeluarkan darah jika kau memberinya memori dalam jumlah tepat.”

“Haaah? Darimana kau bisa tahu soal itu?”

“Dari catatan yang kau tulis sendiri. Terutama dirimu dari regresi ke-1863.”

“Aku dari regresi itu sudah menulis banyak hal, ya? Sialan dia.”

Ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Han Sooyoung, tapi dia memilih untuk tidak melakukannya. Wanita itu Kembali menatap tubuh Kim Dokja dan kemudian menoel-noel pipinya sambil berkata, “Tapi, laki-laki ini benar-benar tertipu, ya kan?”

“Sepertinya begitu.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Dia menggila dan mulai menyerangku.”

Han Sooyoung menyeringai dan mencubit pipi Kim Dokja, bersikap seakan dia bangga dengan apa yang dilakukan sang reader. “Ngomong-ngomong, kenapa dengan dadanya?”

“Itu bayaran karena dia membuatku tersungkur tadi.”

“…. Tersungkur?”

“Tidak usah banyak tanya.”

Han Sooyoung Kembali menatap Kim Dokja yang tetap terbaring lemas tanpa daya. Jujur saja, laki-laki itu sekarang sedang berada di ujung tanduk dan kondisinya tidak bisa dibilang baik-baik saja. Hutan di sekitar mereka saja hancur karena pertarungan keduanya, karena itu tidak aneh jika ada banyak luka di tubuh Kim Dokja.

Han Sooyoung juga paham jika pemandangan yang sekarang dilihatnya adalah bukti nyata dari ‘percakapan’ yang terjadi antara Kim Dokja dan Yoo Joonghyuk.

“Jadi, apa kau mendengar jawaban yang kau inginkan?”

Yoo Joonghyuk terdiam selama beberapa detik dan kemudian menjawab, “Sedikit.”

Han Sooyoung bisa membaca intensi di balik kata ‘sedikit’ yang diucapkan Yoo Joonghyuk. Tapi semua perasaan yang terkandung dalam kata itu adalah milik Kim Dokja dan Yoo Joonghyuk semata, bukan orang lain. Jujur saja, dia merasa sedikit kesepian karenanya.

“Ngomong-ngomong, kau akan kembali ke ‘Kim Dokja’s Company’ ya kan?”

Yoo Joonghyuk Kembali terdiam. Tapi setelah itu dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.

Han Sooyoung mengernyitkan alisnya, “Hei kau! Setidaknya jawab pertanyaanku, sialan! Bukannya aku sudah banyak membantumu!?”

“ ‘Great War of Saints and Demons’ akan segera dimulai.”

Yoo Joonghyuk terus berjalan menjauh. Satu Langkah, dua langkah…

Saat Han Sooyoung sudah bersiap untuk berteriak memanggil sang protagonis…

Tsu-chuchuchut!!

Percikan cahaya mulai menyelimuti tubuh Kim Dokja dan tiba-tiba ada ‘suara’ yang muncul dari dalam tubuhnya.

< “Yoo Joonghyuk-ssi, scenario bodoh itu bukan hal yang terpenting, kau tahu.” >

Yoo joonghyuk yang terkejut langsung berhenti berjalan dan berbalik ke arah Han Sooyoung dan Kim Dokja. Dinding imajiner yang selalu mengelilingi Kim Dokja tiba-tiba bergerak. Dari balik dinding itu, ada seseorang yang sedang berbicara kepadanya.

< “Apa kau percaya jika semuanya akan berakhir jika kau pergi setelah bicara sepihak seperti ini padanya?” >

Ya, yang berbicara bukan dindingnya, tapi….

< “Harusnya kau juga sudah pernah mengalaminya…. Bagaimana ‘rasanya menjadi seorang pembaca’. Kau pasti bisa memahaminya.” >

Tsu-chuchuchuchut!!

Dinding yang tadinya tidak bergeming…. Tidak peduli berapa kalipun dia menyerangnya tiba-tiba menunjukkan sebuah lubang kecil, dan dari lubang itu muncul sebuah tangan misterius. Tangan itu tiba-tiba meraih kepala Yoo Joonghyuk dan langsung menghantamkannya ke dinding.

***

Saat kesadaranku mulai kembali, aku sedang terbaring di sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun.

Apa yang terjadi?

Apa aku sudah mati?

…. Di tangan Yoo Joonghyuk?

Perlahan aku berdiri sambil memikirkan semua pertanyaan-pertanyaan itu. Aku mulai mengedarkan pandanganku ke sekeliling, tapi tidak ada yang bisa kulihat. Sesaat setelahnya, ada cahaya terang dari sebuah lentera yang muncul tepat di depan mataku.

< “Dokja-ssi, ternyata selama ini kau ada di sini.” >

“Apa itu kau, Yoo Sangah-ssi?”

< “Apa kau baik-baik saja?” >

“Di mana aku….?”

< “Kau ada di dalam perpustakaan.” >

Di saat itulah aku mengerti apa yang terjadi padaku. Kemungkinan besar kesadaranku terhisap ke dalam Fourth Wall dan aku kehilangan kesadaran di dunia nyata.

“…. Ngomong-ngomong, apa perpustakaan ini memang selalu gelap seperti ini?”

< “Tidak, hanya saja sekarang perpustakaan sedang dalam kondisi sangat berantakan. Efek pertarungan tadi menghancurkan semua lentera yang ada di dalam, lalu semua rak juga berjatuhan. Semuanya sedang bekerja keras untuk merapikannya.” >

“Maafkan aku. Aku sudah membuat kalian semua kesusahan.”

Yoo Sangah tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

< Tidak. Tidak apa-apa.” >

“Apa ada yang bisa kulakukan untuk membantu kalian…?”

< “Oh, tidak usah. Kau hanya perlu beristirahat di sini. Aku juga sedang istirahat.” >

Yoo Sangah langsung duduk di sebelahku sambil mengerang pelan. Lentera yang ada di depanku menyinari sebagian wajah yang sama sekali tidak berubah dari terakhir kali aku melihatnya.

< “Kau benar-benar hebat.” >

“…. Apanya?”

< “Kau terlihat keren saat mengatakannya.” >

Tidak butuh waktu lama untukku mengerti apa maksud dari kata-kata Yoo Sangah. Tidak diragukan lagi, dia pasti juga melihat apa yang terjadi di dunia nyata dari balik dinding Fourth Wall.

< “Hubungan yang sehat harus dimulai dengan memperkenalkan diri sendiri, ya kan? Setelah ini aku yakin kalian berdua akan menjadi teman baik.” >

“…. Aku akan sangat bersyukur jika hal itu bisa jadi kenyataan, tapi…”

Jujur saja, aku tidak menaruh harapan besar soal itu. Aku bahkan sudah sangat bersyukur jika kemarahan Yoo Joonghyuk bisa mereda. Tapi, kurasa apapun yang kukatakan tidak akan bisa menghilangkan rasa pengkhianatan yang dia rasakan.

Buku-buku berserakan di seluruh sudut ruangan. Tanpa pikir panjang, aku mengambil salah satu buku itu dan membaca judulnya.

< Kim Dokja – Catatan dari usia 15 tahun, Volume #25 >

Aku langsung menutup buku itu dan melemparkannya jauh-jauh.

< “Um, anu… Kim Dokja-ssi?”

“Ya?”

< “Sebenarnya aku sudah membaca buku itu. Tapi belum selesai, kok.” >

“…. Seberapa banyak yang sudah kau baca?”

< “…. Jujur saja aku hampir menyelesaikannya. Menurutku cerita itu lebih menarik daripada novel ‘Cara Bertahan Hidup’…. Anu, maafkan aku.” >

Wajahku langsung merah padam saat berpikir jika Yoo Sangah sudah membaca isi buku itu.

“Ti-tidak apa-apa. aku memang agak malu karena kau membacanya, tapi…”

Sejak aku tahu Yoo Sangah menjadi bagian dari perpustakaan ini, aku tahu jika dia pasti bisa membaca dan melihat ingatanku. Yoo Sangah mulai mengambil beberapa buku  yang ada di sekitarnya, membersihkan debu yang mengotorinya, lalu meletakkannya di salah satu meja dengan sangat hati-hati.

Semua itu adalah ingatan milikku.

Aku tidak bisa melihat ekspresi Wanita itu dengan jelas, tapi aku tahu jika sekarang dia sedang kesusahan. Dan karena aku ingin menghiburnya, aku mengambil salah satu buku yang baru saja dia kumpulkan.

“… Sudah lama aku tidak melihatnya, buku ini.”

Semua buku yang dikumpulkan Yoo Sangah adalah cerita milikku.

Kim Dokja – 15 tahun, 18 tahun, 23, 28….

Aku membalik halaman buku-buku itu dengan pelan.

Kim Dokja yang tidak memiliki ayah.

Kim Dokja, yang tidak memiliki teman.

Kim Dokja, yang kehilangan ibunya.

Itu adalah kehidupan dimana aku selalu kekurangan sesuatu, atau aku kehilangan sesuatu.

< Tidak ada orang yang hidup sendirian. Meski begitu, Kim Dokja selalu sendiri. Dan itulah alasan dia menjadi anak tunggal dan alasan kenapa ‘Kim Dokja’ tidak pernah ada. >
*) jujur nggak begitu paham maksudnya, karena kayaknya ini permainan kata di bahasa aslinya. Tapi kalau dilihat dari kalimat sebelumnya, Kim Dokja itu tidak pernah ada karena dia selalu sendirian, karena itu yang tersisa hanya status ‘anak tunggal’ yang dalam bahasa aslinya juga disebut dokja. Kalau di trivia wikia, kata ‘Dok’ di nama Dokja itu artinya bisa pembaca atau sendirian (tergantung dari hanja yang dipake).

Sungguh nama dengan arti yang menyedihkan.

< Akan tetapi, ada momen dimana Kim Dokja benar-benar ada, dan saat itulah ‘dokja’ (anak tunggal) menjadi ‘dokja’ (pembaca). >

Rangkuman cerita kehidupan yang ditulis dalam bentuk laporan panjang yang mirip seperti novel itu adalah synopsis cerita kehidupanku selama ini. Aku menghabiskan masa remajaku bersama dengan novel ‘Cara Bertahan Hidup’, dan sembunyi di belakang dinding yang tercipta dari cerita tersebut. Aku melakukannya untuk menghindari tatapan dan jari telunjuk dari banyak orang di sekitarku.

< Setidaknya, Dia akan Kembali hidup ketika membaca novel ‘Cara Bertahan Hidup’. >

Aku bisa merasakan tatapan Yoo Sangah yang duduk di sebelahku. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya tatapan itu tidak hanya berasal darinya. Mungkin para pustakawan lainnya juga ikut menatapku dari balik tabir kegelapan.

Sepertinya tebakanku memang benar karena ada kalimat tak terduga yang muncul ketika aku membalik halaman buku yang ada di tanganku.

< Aku bertemu dengan orang aneh di interviewku hari ini. Namanya Yoo Sangah. >

Sesaat setelah aku membacanya, aku langsung menutup buku itu.

…. Apa mungkin…. Yoo Sangah juga membaca bagian ini?

< “Kim Dokja-ssi, apakah kau pernah memikirkannya?”

“Huh? Memikirkan apa….?”

< “Bagaimana jika ‘skenario’ tidak pernah ada? Apa yang akan terjadi pada kita semua?” >

Jujur aku tidak pernah memikirkannya.

Bagaimana jika novel ‘Cara Bertahan Hidup’ tidak pernah menjadi kenyataan?

Bagaimana jika novel ‘Cara Bertahan Hidup’ berjalan sesuai novel aslinya? Kalau begitu apa yang akan terjadi padaku?

…. Apa aku masih hidup?

Apakah aku bisa bertahan?

< “Apakah kita masih tetap akan bekerja di perusahaan yang sama?” >

“Yah, kontrakku tidak akan diperpanjang, jadi…. Kurasa aku mungkin akan mencari pekerjaan di perusahaan baru.”

Ya, aku tidak akan mati semudah itu. Aku mungkin memang akan berpikir untuk mengakhiri hidupku beberapa kali. Dan mungkin saja di hari-hari itu aku akan tertidur setelah membaca kembali novel ‘Cara Bertahan Hidup’. Tapi… ya, kurasa aku tidak akan mati. Tidak semudah itu.

Aku pasti bisa bertahan hidup, bagaimanapun caranya.

”Kurasa di dunia itu aku tidak akan menjadi temanmu, Yoo Sangah-ssi. Tempat kerjaku akan berganti dan kita tidak akan punya alasan untuk bertemu.”

< “Meski begitu, apa kita tidak bisa saling menelpon sesekali?” >

“Kalau itu….”

< “Kurasa kita akan melakukannya. Aku yakin, bahkan meski kau sudah berganti tempat kerja. Aku akan selalu mengingatmu. Apalagi kau itu orang yang unik, Dokja-ssi.” >

“…. Kau sedang balik mengataiku, kan?”

Yoo Sangah hanya menyeringai dan melanjutkan ucapannya.

< “Mungkin saja aku akan penasaran dengan kehidupanmu sehari-hari. Apa dia baik-baik saja? Dia tidak sakit, kan? Apa dia sudah dapat pekerjaan baru? Bagaimana dengan pernikahan…” >

“Kurasa aku tidak akan pernah menikah. Aku yang sekarang saja kesulitan merawat diriku sendiri…. Karena itu aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika aku punya istri dan anak.”

< “Yah, memang benar kau tidak harus menikah. Aku juga lebih senang hidup sendirian.” >

“Kau juga, Yoo Sangah-ssi?”

< “Ya. Lihat, bukannya kita punya banyak kesamaan? Kurasa kita akan menjadi teman baik.” >

“… Kau benar-benar berpikiran seperti itu?”

< “Ya, tentu saja. Kita bisa belajar Bahasa Spanyol Bersama, masuk ke klub sepeda, atau yang lainnya…” >

“Atau untuk mempersiapkan hari tua, kita bisa saling merekomendasikan rencana menabung atau pendanaan hari tua.”

< “Setelah kita tua dan tidak bisa kemana-mana, kita bisa saling bantu saat ingin pergi ke rumah sakit.” >

“Kalau begitu, sepertinya kita harus mencari rumah atau apartemen yang berdekatan.”

< “Ya, tentu saja. Mungkin saja kita bisa jadi tetangga.” >

Kami berdua terus bercakap-cakap. Akan tetapi yang kami bicarakan adalah hal-hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Ya, semua itu tidak mungkin menjadi kenyataan untuk kami berdua.

Sama seperti novel ‘Cara Bertahan Hidup’ untukku di masa lalu.

Yoo Sangah melanjutkan.

< “Lalu…. Heewon-ssi, Hyunsung-ssi, dan Jihye juga…. Akan lebih bagus lagi jika anak-anak juga tinggal di dekat kita…. Bahkan Sooyoung-ssi juga.” >

Meski dunia seperti itu memang benar-benar ada, tidak mungkin kami semua bisa tinggal bersama-sama. Karena…. Sebagian dari mereka adalah karakter dari sebuah novel. Mereka…

“…. Ya, bagus sekali jika semua itu menjadi kenyataan.”

< “Ah, Joonghyuk-ssi juga. Meski kepribadiannya agak buruk, dia koki yang sangat handal. Kurasa menjadi temannya bukan pilihan buruk.” >

Tiba-tiba ada sebuah perasaan yang mulai membuncah dari dalam dadaku.

< “Heewon-ssi dan Hyunsung-ssi akan… haha, begitulah. Dan kita…. Kita akan menua bersama-sama. Sedikit demi sedikit. Di dunia tanpa scenario, tanpa Konstelasi, tanpa dokkaebi. Dunia dimana kita akan bertemu untuk berbagi cerita dengan makanan lezat…” >

Aku kembali mengingat banyak timeline ketika aku sedang bersama dengan ‘Secretive Plotter’. Di antara semua timeline yang mungkin terjadi, mungkin ada satu yang bisa…

< “Pasti sangat membahagiakan jika dunia seperti itu benar-benar ada. Kau juga setuju kan, Dokja-ssi?” >

“Mungkin dunia seperti itu memang ada di suatu tempat.”

< “Dokja-ssi?” >

“Ya?”

< “Aku benar-benar menikmati momen-momen ketika aku bersama denganmu, Dokja-ssi.” >

“……..”

< “Sepertinya aku harus segera pergi.” >

“Yoo Sangah-ssi?”

Sebenarnya aku sudah menyadarinya sejak beberapa saat yang lalu…. Alasan kenapa Yoo Sangah membicarakan hal ini denganku sekarang.

[‘Master of the Island’ memanggil inkarnasi ‘Yoo Sangah’.]

Master of the Island memanggil Yoo Sangah melalui lubang yang muncul di dinding Fourth Wall.

….The King of the Reincarnators.

Akhirnya, momen yang sudah kami tunggu pun tiba. Ya, salah satu alasan kenapa kami memutuskan untuk datang ke Isle of Reincarnators telah menunjukkan eksistensinya pada kami.

< “Perpustakaan ini…. Adalah tempat yang sangat nyaman dan hangat untukku. Tapi…. Tapi…. Aku tidak bisa terus berada di sini, benar kan?” >

“Tapi, tunggu sebentar Yoo Sangah-ssi! Kau tidak perlu buru-buru…!”

Yoo Sangah menggelengkan kepalanya. Sama sepertiku, dia sekarang sudah membaca seluruh chapter novel ‘Cara Bertahan Hidup’. Karena itu dia pasti sudah tahu hal apa yang ingin kusampaikan padanya.

< “Sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini. Selama aku berada di sini, aku hanya akan menjadi ‘pembaca’, tidak kurang dan tidak lebih.” >

Aku bisa melihat kesungguhan di wajahnya, dan hal itu membuatku terdiam.

Aku ingin menghentikannya. Aku ingin memintanya berada di sisiku sedikit lebih lama lagi.

Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya.

< “Dokja-ssi, kau pernah berkata seperti ini padaku. Kau berkata jika kita hanya punya satu kesempatan saja, karena itu kita harus hidup sepenuh hati di dunia… di timeline ini. Karena itu…. Aku akan mengatakannya sekarang, di sini.” >

Cahaya putih mulai menyelimuti tubuh Yoo Sangah. Dia tiba-tiba mengusap kepalaku dan berkata sambil tersenyum.

< “Ayo bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.” >

 

Chapter 370     Daftar Isi     Chapter 372


Komentar

Postingan Populer