ORV Chapter 370: Episode 70 – A story that can’t be shared (2)

 Disclaimer: Novel ini bukan punya saya


< “Aku akan membunuhmu, Yoo Joonghyuk.” >

Semua orang yang ada di perpustakan melihat kalimat itu.

“Jika ini tidak dihentikan, sepertinya kita semua akan segra menghilang."

[‘Fourth Wall’ bergetar keras!]

Seluruh perpustakaan berguncang hebat. Buku-buku yang tadinya sudah tersusun rapi sekarang terjatuh dari tempatnya dan berserakan di lantai. Meski begitu tidak ada pustakawan yang merapikannya.

“Menyebalkan sekali. Kenapa mereka tidak mau bicara satu sama lain? Sudah kuduga. Dua orang ini tidak punya keinginan kuat untuk menjadi satu.”

“Padahal Sooyoung kita tidak melakukan kesalahan apa-apa, tapi…”

Si ‘Gurita’ menggunakan salah satu tentakelnya untuk mengetuk salam satu mata bulatnya.

Bersamaan dengan bertemunya pedang Yoo Joonghyuk dan Kim Dokja, ada banyak kalimat yang bermunculan di dalam perpustakaan. Nirvana mulai menggeratakkan giginya.

“Heei, anak baru. Bagaimana menurutmu?”

Saat Yoo Sangah mendengar panggilan Nirvana, dia berhenti menangkap buku-buku yang berjatuhan dan menatap para pustakawan seniornya itu. Tangannya penuh dengan buku-buku yang berisi ingatan Kim Dokja. Ya, semua itu adalah buku-buku yang baru saja dia baca hingga beberapa saat yang lalu.

“Hm… aku punya dua pendapat soal itu.” jawab Yoo Sangah.

“Dua?”

“Pertama, Sooyoung-ssi belum mati. Aku sangat mengenalnya. Dia bukan orang yang akan mengorbankan dirinya untuk masalah orang lain seperti ini.”

Mata si gurita yang tadinya sembab, sekarang terbuka sedikit lebih lebar.

“Apa katamu? Tapi kau juga membacanya kan?” ucap si gurita.

“Sepertinya kau belum tahu bagaimana cara kerja sebuah cerita. Heroine kehilangan kesadarannya, tangannya terjatuh ke tanah. Setelah itu sang hero pun tersadar! Kau tahu, di semua film yang pernah kutonton…”

Yoo Sangah terus melanjutkan ucapannya. Dia tidak peduli dengan reaksi dari si gurita atau pustakawan lainnya.

“Kedua. Sekarang mereka sedang berbicara satu sama lain.”

Yoo Sangah berkata sambil menatap kalimat-kalimat baru yang bermunculan.

(Even though no one in this world would call that a ‘conversation’, but still.)

< "Tapi... Kurasa tidak akan ada orang yang menyebut itu sebagai 'berbicara'." >

***

Kepingan Cerita keluar dari luka yang ada di tanganku. Semua itu adalah cerita yang kami ciptakan bersama.

[Cerita ‘Demon World’s Spring’ menumpahkan ceritanya!]

[Cerita ‘Torch that swallowed the Myth’ menggeram marah!]

Kami berdua sama seperti seekor naga dan macan yang sedang bergelut, cerita kami berdua saling beradu kekuatan dan tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Yoo Joonghyuk sama sepertiku, dia juga memiliki kekuatan cerita raksasa. Dengan taka lain dia juga bisa menggunakan kekuatan yang sama sepertiku.

[Bagian cerita yang kau miliki lebih besar dari lawanmu!]

Meski bagian ceritaku lebih banyak dari Yoo Joonghyuk, bagian yang dimiliki oleh protagonis itu tidak mau mendengarkan perintahku. Mungkin ini terjadi karena seluruh jalan kehidupan Yoo Joonghyuk selama ini. Apalagi cerita miliknya adalah cerita paling intens di Star Stream.

Ch-chuchuchuchut!!

Probabilitas dari generasi ke-2 mulai menekan kami berdua. Akan tetapi untuk saat ini kami masih bisa lari dari tekanan itu.

[Cerita ‘One who Opposes the Miracle’ meraung keras seperti petir!]

[Cerita ‘One who Opposes the Miracle’ meraung marah!]

Cerita yang sama…. Cerita yang tercipta dari sejarah yang sama mulai beradu satu sama lain.

[‘Master of the Island’ memperhatikanmu dengan seksama.]

[Ada banyak konstelasi yang melihat pertarunganmu.]

[Konstelasi ‘Demon-like Judge of Flames’ sedang…]

Suara para Konstelasi menjadi semakin pelan dan perlahan menghilang.

[Skill eksklusif ‘The 4th Wall’ diaktifkan!]

Kami saling melempar serangan dengan kekuatan penuh, itu artinya kami berdua sudah siap mati di pertarungan ini. Pedang yang kuayunkan dengan sekuat tenaga berhasil mengenai pinggang Yoo Joonghyuk. Di sisi lain, pedangnya menancap tepat di bahuku.

Intuisi pertarunganya lebih tinggi dariku, tapi ‘status’ku tetap lebih tinggi darinya.

[Cerita raksasa ‘Demon World’s Spring’ melindungi dirimu!]

Aura Transenden yang tajam terus menusuk lapisan ‘status’yang kumiliki. Dari energi pedang miliknya, aku bisa membaca niat Yoo Joonghyuk yang sebenarnya. Aku bisa melihat bagaimana putus asanya dia ketika berdiri di depanku saat ini.

Dia tidak mau bertanya, dan aku juga tidak mau repot-repot menjelaskannya. Tidak, kami hanya mengayunkan pedang masing-masing… Lagi dan lagi. Dan sebagai pengganti mulut kami, cerita-cerita kamilah yang berkata menggantikan kami.

[Cerita ‘Paradise of Despair’ melompat-lompat seperti Binatang buas!]

Ingatan dari ‘Paradise’…

[Cerita ‘One who hunted the King of Calamity’ sedang berteriak!]

Sisa-sisa dari ‘Peaceland’…

[Cerita ‘Liberator of the Industrial Complex’ sedang berduka.]

Momen revolusi…

< Tidak ada dari semua itu yang tertulis dalam novel ‘Cara Bertahan Hidup’. >

Waktu yang sudah kami lewati tidak cocok dengan semua halaman yang pernah kubaca di masa lalu.

[‘Angel Transformation’ diaktifkan!]

Sayap putih keluar dari punggungku. Statusku langsung meningkat drastis dan mulai menyelimuti Unbreakable Faith.

Yoo Joonghyuk yang tidak bisa menahan energi transformasiku langsung berteriak keras. Tubuhnya juga terlempar ke belakang sejauh beberapa meter.

“Serang aku dengan seluruh kekuatan yang kamu miliki, Yoo Joonghyuk. Aku juga akan melakukan hal sama.”

Sorot mata Yoo Joonghyuk mulai berubah. Status nya mulai meningkat dan semua energi itu mulai mendistorsi sosoknya. Ya, sepertinya kekuatan sang protagonis sudah cukup kuat untuk mendistorsi ruang itu sendiri. Saat ini aku sedang melihat kekuatan penuh seorang Transenden.

Sosok Yoo Joonghyuk yang diselimuti oleh cahaya keemasan tiba-tiba menghilang dari hadapanku.

[Stage 2 skill ‘Omniscient Reader’s Viewpoint’ masih aktif!]

Pedang Yoo Joonghyuk bergerak dengan sangat cepat hingga aku tidak bisa mengikutinya dengan mataku.

Claaaang!!

Pedang milik kami berdua saling beradu. Semakin keras suara benturan pedang kami, semakin berat beban yang harus ditahan oleh lenganku. Cerita mulai memperkuat kaki dan pahaku. Di sisi lain, cerita juga memperkuat tangan dan bahu Yoo Joonghyuk.

Tentu, aku juga bisa mendengar suaranya.

[‘Fourth Wall’ aktif dengan sangat kuat dan mulai melawan balik!]

Saat ini, Yoo Joonghyuk mulai menceritakan kisahnya.

< “Kau…” >

Aku mencoba menerka kalimat apa yang akan muncul setelahnya. Tidak salah lagi, dia pasti akan menyalahkanku. Seperti yang dikatakan Han Sooyoung, dia adalah orang seperti itu.

< “Kenapa kau memilih bertahan di regresi itu?” >

Ingatan dari regresi ke-1863 bermunculan di kepalaku.

< “Aku tidak akan kembali ke regresi ke-3. Aku akan tetap berada di sini dan melihat dunia ini hingga akhir… Bersama dengan semua orang yang ada di tempat ini.” >

Keputusanku untuk kembali ke tempat ini mulai menunjukkan taringnya padaku. Saat ini Unbreakable Faith mulai mengeluarkan suara krak pelan karena tidak bisa menahan beratnya serangan Yoo Joonghyuk.

Dulu, itu adalah pilihan terbaik. Kupikir, setelah menyaksikan akhir dari regresi ke-1863, aku bisa kembali dengan selamat ke regresi ke-3. Karena itu aku mencoba mencari cerita yang bisa membuat semua orang bahagia.

Akan tetapi…. Bagaimana jika seandainya Yoo Joonghyuk dari regresi ke-1863 tidak membantuku saat itu?

Apa yang akan terjadi jika Han Sooyoung dari regresi ke-1863 benar-benar berniat membunuhku?

Apakah aku bisa kembali ke timeline ini dengan selamat?

Meski aku berpikir jika aku adalah orang yang paling tahu tentang semua skenario ini, mungkinkah semua yang terjadi padaku hanyalah sebuah keberuntungan semata?

< “Kawan seperjuanganmu ada di sini.” >

Pedang Yoo Joonghyuk berhasil menebas bahuku. Lalu…

< “Timeline duniamu ada di sini.” >

Serangan keduanya berhasil menebas siku ku.

< “Kau berkata pada mereka agar hidup di dunia ini.” >

Serangan ketiga berhasil melubangi salah satu sayapku. Semua luka itu terasa sangat sakit. Tapi apa kau tahu apa yang membuatku merasa lebih sakit dari semua itu? Itu adalah rasa kecewa yang terpancar jelas dari kata-kata Yoo Joonghyuk.

[Inkarnasi ‘Yoo Joonghyuk’ menolak untuk melakukan regresi.]

Yu Joong-Hyeok who gave up on the path of regression and decided to live out his 3rd turn because of me was now looking back. The being who loved this world more than anyone, and wanted to protect it because of that, was staring straight back at me.

Yoo Joonghyuk yang merelakan jalan regresinya dan memilih untuk tetap berada di regresi ke-3 karena diriku sekarang sedang menatapku. Ya, sosok yang paling mencintai dunia ini lebih dari siapapun, sosok yang paling ingin melindungi dunia ini karena rasa cintanya itu…. Sekarang sedang menatapku.

< “Lalu kau… Kenapa…” >

Beberapa tipe kemarahan dan rasa dikhianati kadang tidak bisa diterjemahkan menjadi kata-kata. Tidak peduli seberapa maha kuasanya seorang pembaca, tidak ada yang bisa membaca perasaan-perasaan itu.

Yoo Hosung pernah berkata seperti ini.

“Sebuah cerita mungkin tidak akan terlihat bagus di pandangan pertama. Tapi cerita pasti menampakkan jurang tanpa dasar bak labirin kepada mereka yang berani melihat jauh ke dalam intinya. Semua cerita seperti itu, tidak peduli apakah mereka itu cerita biasa atau raksasa.”

Aku yakin apa yang kulihat saat ini bukanlah semua yang dimiliki oleh Yoo Joonghyuk. Dan jujur saja aku tidak pernah bisa memahami kenapa dia bisa semarah ini. Karena, semua hal bisa menjadi alasan baginya. Atau malah sebaliknya… Semua hal itu bukanlah alasan untuknya.

Tapi ada satu hal yang pasti, dan itu adalah Yoo Joonghyuk pasti sudah memutuskan untuk tidak mengikuti perintah siapapun lagi.

Tidak olehku, dan bahkan tidak oleh dirinya sendiri. Dan mungkin dia juga menolak dikendalikan oleh para Konstelasi yang sedang menonton kami saat ini.

< “Jawab aku, Kim Dokja.” >

Karena aku sudah menerima banyak sabetan pedang darinya, tubuhku mulai goyah. Kemungkinan besar Yoo Joonghyuk sudah tahu kebenarannya—kebenaran jika sampai detik inipun aku masih membaca ceritanya.

Meski begitu…. Meski dia tahu aku sedang membaca ceritanya, dia memilih untuk terus berpikir tanpa henti.

< “Jawab aku.” >

Sama seperti diriku yang mengamatinya dari balik ‘dinding’, dia pasti sudah menuliskan banyak hal di dinding yang menghadap ke arahnya. Kemudian dia pasti berharap ada yang orang yang akan membaca ceritanya cepat atau lambat.

Sayangnya, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu. Jika aku sampai melakukannya, dia akan…

[‘Fourth Wall’ menjadi semakin tebal.]

…. Dia hanya akan berakhir sebagai karakter dari kisah ini.

[‘Fourth Wall’ menjadi semakin tebal.]

Karena…. Bagiku kau tidak boleh hanya menjadi ‘karakter’ semata.

Ku-gugugugu!!

Yoo Joonghyuk menatapku dengan tajam. Ya, dia ada tepat di depanku… dia ada di tempat dan waktu yang sama denganku. Dan sekarang dia ingin menghancurkanku untuk membuktikan jika dirinya bukan sekedar karakter yang ada dalam novel.

< “Begitukah.” >

Kalimat ucapannya mengapung di atas ‘dinding’.

< “Jadi itu pilihan yang kau buat.” >

[‘Fourth Wall’ menjadi semakin tebal.]

< Bahkan di regresi ini pun aku tidak memiliki teman yang bisa mengerti.” >

Jika aku mengatakan sesuatu… apapun itu, mungkin dia akan memafkanku. Mungkin akan ada keajaiban yang terjadi dan dia akan menerimaku kembali sebagai temannya.

Akan tetapi, jika itu yang terjadi, Han Sooyoung tidak akan kembali…. Dan rasa sakit yang kami timbulkan satu sama lain tidak akan terhapus. Kami tidak akan pernah bisa menjadi teman seperjuangan lagi.

Mau itu Yoo Joonghyuk ataupun aku, kami berdua sama-sama tahu mengenai kebenaran yang menyakitkan ini.

[‘Fourth Wall’ menjadi semakin tebal.]

Dan karena itulah sekarang kami saling mengayunkan pedang dan bertarung hingga titik darah penghabisan.

[‘Fourth Wall’ menjadi semakin tebal.]

Serangan kami berdua saling beradu hingga menyebabkan ledakan luar biasa. Abu tebal yang mencekik pernafasan mulai memenuhi udara. Kami yang tidak bisa menahan efek serangan masing-masing pun tersungkur ke tanah.

Orang pertama yang berhasil berdiri adalah aku.

Aku berjalan terhuyung ke arah Yoo Joonghyuk yang terkapar tidak jauh dariku. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Aku mengangkat pedangku dan mengacungkannya padanya. Yoo Joonghyuk sama sekali tidak memberikan perlawanan, sebaliknya dia malah menatapku dan berkata.

“…. Aku sudah bertahan terlalu lama di regresi ini. Jadi bunuh saja aku.”

Yoo Joonghyuk sudah membunuh Han Sooyoung. Dia sudah melewati garis yang seharusnya tidak dia lewati.

Aura energi yang menyelimuti Unbreakable Faith bergetar pelan. Dan saat aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi, aku mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Han Sooyoung dari regresi ke-1863 padaku.

“Jika novel yang kubuat hanya tiruan dari ‘Cara Bertahan Hidup’, kalau begitu kau itu tiruan dari mana?”

Jawaban dari pertanyaan itu ada di depan mataku sekarang.

< Kim Dokja telah belajar bagaimana hidup itu dari laki-laki ini. >

Laki-laki yang ada di depanku ini adalah ayahku, kakakku, dan temanku.

[‘Fourth Wall’ menjadi semakin tebal.]

Aku sudah menatapnya dari balik dinding tebal ini untuk waktu yang sangat lama. Dia sudah berkali-kali menyelamatkanku, dan karena ceritanyalah aku bisa bertahan hidup hingga saat ini.

Perlahan, aku melepaskan Unbreakable Faith dan pedang itu jauh ke tanah dengan suara nyaring. Aku tidak bisa membunuh laki-laki ini. Tapi aku juga tidak bisa meminta ampun padanya.

Aku tidak pernah diajari untuk bertindak sebagai seorang pengecut. Ya, aku selalu diajari untuk membayar semua hal yang kulakukan.

Yoo Joonghyuk masih terus menatapku, dan aku juga balik menatapnya.

< “Aku ada di sini. Di tempat ini bersamamu.” >

Aku tahu.

< “Meski begitu, kau malah memilih membaca cerita itu dan tidak memperhatikan hal lain di sekitarmu.” >

…. Karena itu adalah caraku untuk bertahan hidup. Kau melakukan sesuatu dan aku membaca apa yang sudah kau lakukan.

< “Jika kau tidak mau melakukannya, aku akan melakukannya sendiri.” >

Yo Joonghyuk perlahan duduk dan langsung memegang pedangnya dengan erat.

Entah kenapa aku bisa mendengar suara dari akhir sebuah cerita. Mass Production-type Maker pernah berkata seperti ini padaku, cerita-cerita tertentu bisa saja berakhir sebelum mendekati ■■. Akan tetapi, jika tempat ini adalah akhir dari semua cerita… dan aku ditakdirkan untuk mati di sini, maka bolehkan aku mengatakan satu hal padanya?

“… Hei, Yoo Joonghyuk.”

Dia berhanti bergerak sejenak saat aku memanggil namanya.

“Kau mungkin sudah mengetahuinya, tapi aku bukan seorang Prophet. Lebih tepatnya aku berada di sisi terjauh dari sosok yang kau sebut Prophet.”

Sejak kami berkelahi di jembatan Dongho, aku tidak pernah memperkenalkan diriku dengan benar kepadanya. Bagi Yoo Joonghyuk aku adalah seorang Prophet…. Laki-laki dengan masa lalu misterius.

“Aku bukan Demon King of Salvation.”

[Cerita ‘Demon King of Salvation’ telah menghentikan ceritanya.]

“Aku juga bukan King of a Kingless World.”

[Cerita ‘King of a Kingless World’ telah menghentikan ceritanya.]

Satu per satu, cerita-ceritaku menghentikan kisah mereka. Kecuali ceritaku sendiri, semua cerita-cerita itu diam dan tidak mengeluarkan suara apapun.

“Namaku Kim Dokja.”

Sayap yang ada di punggungku menghilang, dan otot-otot besarku kembali seperti semula.

“Usiaku 28 tahun…. Tunggu, mungkin usiaku sudah lebih tua dari itu. Lalu, aku adalah karyawan di sebuah perusahaan game. Hobiku membaca web novel…”

Aku mengatakan semua itu seakan baru pertama kali bertemu dengan sosok yang ada di depanku ini.

“Menyedhkan, bukan? Yah, inilah diriku yang sebenarnya…. Yoo Joonghyuk, siapa kau yang sebenarnya?”

Bagiku, Yoo Joonghyuk adalah seseorang yang ‘kukenal’ sejak aku kecil. Lebih tepatnya dia adalah sosok yang ceritanya kubaca seorang diri.

Karena itu aku tidak pernah mendengar kisah kehidupannya langsung dari mulut Yoo Joonghyuk sendiri.

Yoo Joonghyuk membuka mulutnya dan berkata.

“Namaku Yoo Joonghyuk.”

Setelah itu pedangnya bergerak dan menebas tubuhku.

“Yoo Joonghyuk. Mantan regressor.”

 

Chapter 369     Daftar Isi     Chapter 371


Komentar

Postingan Populer