ORV Chapter 359: Episode 67 – Deceased of the Scenario (4)
Disclaimer: Novel ini bukan punya sayaa
💥💥💥💥💥💥
Aku menelan umpatanku. Jika Fourth Wall menjadi lebih tipis…
Rasa sakit dari luka peperangan yang sudah lama tidak pernah
kurasakan kini muncul kembali. Luka tebasan di tulang kering dan tanganku
terasa sakit. Bajuku yang basah karena keringat terasa sangat tidak nyaman dan sengatan
matahari di tempat ini membuatku pusing. Jika aku tahu akan begini jadinya, Aku
pasti tidak akan menolak ajakan untuk olahraga lebih sering.
Sebuah gada berduri melayang ke kepalaku, karena itu aku
langsung bergulung di tanah untuk menghindarinya. Persendianku bersuara keras
saat aku bergerak terlalu cepat. Goblin itu mengikuti pergerakanku sambil terus
mengayunkan gada besarnya. Bulu kudukku juga berdiri saat aku melihat ada noda
darah di gada itu. Seharusnya aku sudah familiar dengan bau cairan merah itu,
tapi aku tetap merasa aneh saat menciumnya.
[Fourth Wall
menjadi semakin tipis.]
[Fourth Wall
bergetar dengan kencang.]
Aku melompat dari posisiku dan membetulkan kuda-kudaku. Dua
goblin yang sudah kehilangan salah satu rekannya itu langsung mengelilingiku
dengan mata merah mereka. Mereka sudah siap membunuhku kapan saja. Dan di saat itulah
aku menyadari munculnya rasa takut mati yang datang dengan sangat tiba-tiba.
Di balik Fourth Wall yang semakin menipis, semua emosi yang
sudah lama kuabaikan mulai keluar dengan cepat. Cerita yang dulu pernah kubaca
ternyata sesuatu yang sangat mengerikan.
Aku mencoba mengontrol tanganku yang gemetaran. Aku harus
bertarung. Aku bisa bertarung. Semua companionku sudah melalui rasa takut ini.
Hanya aku—si pecundang—yang terus menghindari semua rasa sakit itu dengan
bantuan Fourth Wall.
< Kim Dokja memegang Unbroken Faith dengan
tangannya yang gemetaran. >
Let’s think. How could I hurt the goblins with my current
body? Skills couldn’t be used but stigmas were still available. The level was
reset but it was possible to use stigmas. The problem was how to apply the
stigma. I saw the approaching goblin and cast Song of the Sword.
Ayo berpikir. Bagaimana caranya aku bisa melukap para goblin
itu dengan tubuh ini? Aku tidak bisa menggunakan skill, tapi stigma masih bisa
digunakan. Levelnya mungkin memang disesuaikan, tapi aku masih bisa menggunakan
stigma. Masalahnya, aku tidak tahu bagaimana caranya menggunakan stigma. Saat
aku sibuk berpikir, seekor goblin tiba-tiba berlari mendekat, aku langsung
mengaktifkan stigma Song of the Sword.
[This isn’t your stigma.]
[Ini bukan stigma milikmu.]
[The effect of the stigma is fixed to the minimum.]
[Efek dari stigma ini akan diatur pada level minimum.]
「 The second day. Sunny. I went out early and checked the
weapons. 」
< Hari kedua, cerah. Aku berangkat pagi-pagi untuk
memeriksa senjata. >
Unbroken Faith emitted a faint sheen and returned to its
original state. It would’ve been nice if a fire arrow emerged, shit. It was
comforting to feel that my sword was a bit lighter.
Unbroken Faith mengeluarkan cahaya samar berwarna hijau dan
kemudian kembali ke mode aslinya. Sial, padahal aku berharap setidaknya ada
panah yang keluar. Tapi di tengah semua kesialan itu, aku cukup lega karena
berat pedangku jadi sedikit berkurang.
Kieeek?
Goblin itu menertawakan usahaku dan langsung mengayunkan
gadanya dengan keras. Gada itu mengenai pedangku dan tanganku serasa ingin patah
saat menahannya.
Para goblin ini memang terlihat lemah, tapi mereka masih
jauh lebih kuat dari manusia biasa. Mereka adalah monster yang bisa bertahan
hidup dalam kondisi ekstrim di pulau ini.
Gada kedua melesat ke arah pinggangku dan aku tidak sempat
menahannya dengan pedangku, karena itu aku langsung mengayunkan kakiku untuk
menendangnya. Di saat yang bersamaan aku bisa merasakan duri yang ada di gada
itu menancap di telapak kakiku dan tanpa sadar aku menggigit bibirku untuk
menahan rasa sakitnya. Di sisi lain para goblin itu langsung berteriak ketika
mencium bau darah. Jika aku tidak bisa menggunakan stigma, aku harus mencoba
cara kedua.
[Cerita raksasa
‘Demon World’s Spring’ merespon keinginanmu.]
Di pulau ini semua skill disegel dan efektifitas stigma
dibatasi, tapi itu tidak berarti semua kekuatan tidak bisa digunakan.
[Cerita raksasa ‘Torch
That Swallowed the Myth’ merespon keinginanmu.]
Jika ada sesuatu yang sudah ‘ada’ bahkan sebelum lingkaran
sihir tercipta, maka itu adalah cerita.
[Saat ini kau tidak
bisa mengendalikan cerita-cerita ini dengan kekuatanmu.]
[Cerita-ceritamu
menolak perintahmu.]
Masalahnya kekuatanku berkurang drastis setelah memasuki
pulau ini, karena itu mereka tidak mau mendengarkan perintahku.
[Cerita raksasa ‘Demon
World’s Spring’ menatapmu dengan rasa kecewa.]
[Cerita raksasa ‘Torch
That Swallowed the Myth’ menginginkan tubuhmu yang sudah melemah.]
Darah mulai naik ke kepalaku karena cahaya terik matahari.
Para goblin mundur sedikit saat merasakan kekuatan dari dua cerita raksasa itu,
tapi sedetik kemudian mereka kembali menyerangku.
Stigma tidak bisa digunakan dan cerita tidak mau
mendengarkan perintahku. Aku menggeratakkan gigiku saat melihat para goblin
itu. Pada akhirnya hanya cara terakhir ini yang bisa kulakukan... Sayang
sekali, padahal sebisa mungkin aku tidak ingin menggunakannya.
Hal itu terjadi saat aku sudah membulatkan tekadku dan mulai
meningkatkan energi sihirku. Ada sebuah dagger yang melayang melewatiku dan
menancap di kepala salah satu goblin. Sedetik kemudian, sebuah pedang berhasil
menebas leher goblin kedua dengan mudah.
Saat aku melihat gadis dengan kuncir ekor kuda itu, aku
langsung menghela nafas lega.
“Paman, kau baik-baik saja?”
Di depanku muncul Lee Jihye yang tubuhnya penuh dengan
lumpur.
***
Sejujurnya alasanku menggunakan stigma Song of the Sword
bukan hanya untuk menyerang para goblin itu. Seperti yang tertulis dalam pesan,
stigma itu bukan milikku. Jadi jika aku menggunakannya, pemilik asli dari
stigma itu pasti juga akan mengetahui keberadaanku.
“... Whew... Aku lega karena bisa bertemu dengan paman.”
Lee Jihye membasuh wajahnya di sungai. Sepertinya dia juga
sudah berjuang keras untuk bertahan hidup di pulau ini.
“Apa-apaan tempat ini? Skill dan stigma tidak bisa
digunakan. Aku pasti sudah mati jika tidak menerima latihan dari kakek
Kyrgios.”
“Apa kau terluka?”
“Tidak. Aku bersembunyi dengan baik. Ngomong-ngomong ada apa
dengan paman?”
“Yah, begitulah.”
Aku mengoleskan Cut Medicine yang kudapat dari Lee Seolhwa
di atas lukaku. Aku tidak percaya bisa mendapatkan luka sebanyak ini karena
bertarung dengan goblin.... Jika begini, aku tidak bisa membayangkan seberapa
parah dan berbahayanya skenario ini di masa depan.
Lee Jihye hanya menatapku dan kemudian mengambil Cut
Medicine dari tanganku dan berkata sambil menggerutu, “Berikan obat itu padaku.
Paman tidak bisa mengoleskannya di punggungmu, kan.”
Lee Jihye membantu mengoleskan obat itu di luka yang ada di
punggungku.
“Pelan-pelan ya. Aku bisa mati jika kau menekannya terlalu
keras.”
“Jangan cengeng, paman. Ngomong-ngomong, memangnya kau
sekurus ini?”
“Massa otoku berkurang sedikit.”
“Tapi bahumu sama lebarnya dengan bahuku?”
Harga diriku rasanya tercoreng saat mendengar Lee Jihye
berkata seperti itu, karena itu aku langsung mengambil obat itu darinya. Lebih
tepatnya aku mencoba mengambil obat itu tapi tidak berhasil. Semua itu karena
sekarang Lee Jihye lebih kuat dariku.
Lee Jihye langsung memberikan peringatan padaku. “Jika kau
bergerak seperti itu, bahumu bisa patah.”
Sudah lama sejak aku merasa selemah ini.
“Nah, sudah selesai.”
Efek dari obat yang diberikan Lee Seolhwa masih cukup bagus
meski sudah dipengaruhi oleh probabilitas cerita generasi pertama. Efeknya
memang tidak sedramatis biasanya, tapi setidaknya lukaku bisa sembuh lebih
cepat dari luka normal. Meski tidak memiliki swords master atau penyihir circle
ke-9, generasi pertama masih memiliki martial art dan sihir sederhana.
Setelah selesai mengobati lukaku, kami berdua melanjutkan
perjalanan melalui hutan. Akan tetapi tidak lama kemudian malam tiba dan menyelimuti
seluruh hutan dalam kegelapan. Lee Jihye mengamati asap yang muncul dari bagian
tengah pulau dan kemudian bertanya.
“Apa sebaiknya kita bermalam di sini?”
Aku menganggukkan kepala. Kami bisa terus berjalan di malam
hari, tapi kami tidak punya skill yang mendukung perjalanan di malam hari.
Apalagi ada kemungkinan jika kami akan bertemu dengan musuh yang lebih
mengerikan daripada goblin jika nekat meneruskan perjalanan.
[Malam telah
menyelimuti pulau.]
[Di malam hari,
beberapa fungsi sistem kembali diaktifkan.]
[Sistem tas dokkaebi
kembali diaktifkan.]
Aku langsung membuka tas dokkaebi dan membeli beberapa item
yang diperlukan. Ada akomodasi portabel untuk dua orang dan alat pengaman area
sekitar. Lalu ada juga item recovery untuk jaga-jaga.
Lee Jihye menerima item-item itu dengan ekspresi heran. “Apa
ini? Paman masih bisa membeli item seperti ini di pulau generasi pertama?”
“Ya. Pada akhirnya penggunaan koin dalam skenario masih
tidak berubah.”
Mau itu generasi pertama, kedua, atau ketiga, inti dari
semua skenario adalah uang. Karena itu masuk akal jika penggunaan tas dokkaebi
masih diperbolehkan di waktu-waktu tertentu.
Lee Jihye mulai memasang tenda sambil melihatku dengan
tatapan menghina. “Paman, kudengar kau pernah ikut wajib militer. Tapi kenapa
kau tidak tahu caranya mendirikan tenda?”
“Itu sudah lama sekali. Lagipula kenapa kau bisa
melakukannya dengan mudah?”
“Aku pernah ikut pramuka saat SD.”
Benar juga, Lee Jihye punya setting karakter seperti itu. Mungkin
dia merasa kasihan setelah melihatku kesusahan karena penalti yang diberikan
oleh pulau ini, karena itu dia berinisiatif mendirikan tenda untukku.
Malam di hutan sangat dingin. Kami mengumpulkan ranting
kering dan menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Di depan api itu,
aku dan Lee Jihye tenggelam ke dalam pikiran masing-masing. Aku tidak perlu
menggunakan Omniscient Reader’s Viewpoint untuk tahu jika gadis itu ingin menanyakan
sesuatu, karena itu aku menunggu.
Lee Jihye melempar sebatang ranting ke dalam api dan
kemudian bertanya, “Paman, boleh aku bertanya padamu?”
“Tentu.”
“Kapan novel itu dimulai?”
Aku sudah menduga jika pertanyaan itu akan muncul, karenanya
aku memutuskan untuk menjawabnya dengan jujur. “Lebih dari 10 tahun yang lalu.”
Ingatanku agak sedikit kabur, tapi aku masih ingat apa yang
terjadi saat aku pertama kali membaca novel Cara Bertahan Hidup.
“Bagaimana aku yang ada di dalam novel?”
Pertanyaannya normal. Jika aku jadi Lee Jihye, aku pasti
juga pasti penasaran dengan hal yang sama. Aku mulai mengingat deskripsi Lee
Jihye yang ada dalam novel.
Admiral Lee Jihye. Dia adalah gadis yang menggunakan
pedangnya untuk melindungi companionnya. Harga dirinya sangat kuat, tapi dia
adalah yang paling penyanyang dari semuanya. Dia adalah gadis yang selalu
menunjukkan isi hatinya di wajahnya.
Sebisa mungkin aku mencoba untuk tidak menyentuh luka Lee
Jihye ketika menceritakan kisahnya. Lee Jihye menatapku dengan raut curiga dan
bertanya, “Ceritanya terlalu bagus sampai aku merasa sedikit bersalah. Apa
detailnya memang seperti itu?”
“Novelnya cukup panjang.”
“Tapi... Oh, apa paman hafal semua detailnya?”
“Yah, aku sudah membacanya banyak kali.”
“Tetap saja, bisa menghafal sebanyak itu... paman hebat
juga.”
Aku hanya bisa menjawab seperti ini. “Saat itu aku masih SMP
dan satu-satunya hobiku adalah membaca novel.”
“Paman masih SMP? Hahaha! Kalau begitu paman lebih muda
dariku saat pertama kali membacanya? Itu lucu.”
“Semua orang pernah berusia 15 tahun.”
[Konstelasi ‘Abyssal
Black Flame Dragon’ mengangkat kepalanya.]
Lee Jihye tertawa seakan dia baru saja mendengar sesuatu
yang sangat lucu. “Benar juga. Aku juga pernah berusia 15 tahun.”
Lee Jihye menatap sarung pedangnya dengan tatapan nostalgia.
Ada sebuah gantungan kunci yang tergantung di sarung itu. Karena aku sudah
membaca novel Cara Bertahan Hidup, aku tahu arti dari gantungan kunci itu.
“Apa kau tidak apa-apa?”
“... Apa paman tahu soal gantungan kunci ini?”
“Sedikit.”
“Ini bukan rahasia.”
Gantungan kunci yang selalu dibawa Lee Jihye adalah
pemberian dari temannya yang meninggal di skenario pertama.
Salah satu kalimat dari novel Cara Bertahan Hidup melintas
dalam kepalaku.
< “Jihye. Bunuh aku. Tidak apa-apa.” >
Lee Jihye adalah Sword Demon yang terluka. Meski
karakterisasinya berubah suatu hari nanti, wajah itu tidak akan pernah berubah.
Lee Jihye adalah orang yang tidak pernah melupakan dosa yang pernah dia
perbuat.
“Apa paman tahu apa yang terjadi padaku dalam novel?”
Pertanyaan Lee Jihye membuatku teringat dengan cerita yang
sudah lama kulupakan. Aku mengetahui akhir dari novel Cara Bertahan Hidup.
Ring.
Ada suara bel yang berdering di telingaku. Suara itu berasal
dari alat keamanan yang kupasang sebelumnya. Suara bel itu muncul terus menerus
seperti ritme musik horor yang menembus masuk ke dalam telingaku.
Ring. Ring. Ring. Ring.
Ring.
Ring. Ring. Ring. Ring.
Ring.
“Paman.”
Ada sesuatu yang mendekat ke arah kami. Berdasarkan interval
bel yang muncul, sosok itu bukan goblin atau orc. Aku menghitung jarak asap
yang muncul dan kemudian berkata, “Kau akan bertahan hingga akhir dan hidup
bahagia, sama seperti di dalam novel.”
Mungkin itu hanya kebohongan. Tapi, awalnya novel juga hanya
sebuah kebohongan... khayalan dari sang penulis. Dan sejauh ini aku hidup untuk
membuat kebohongan itu menjadi kenyataan.
“Cepat lari ke arah desa. Aku akan mengulur waktu.”
“Aku tidak mau! Paman, kau saja yang lari! Bukannya kau
lebih lemah dariku!?”
“Kau tidak bisa mengatasi monster ini. Kita juga tidak
mungkin bisa menang meski bekerja sama.”
Lee Jihye yang sekarang hanya bisa mengalahkan goblin. Aku
berkata dengan nada tenang padanya, “Pergi ke desa dan cari bantuan di sana.
Dengan begitu kau dan aku bisa bertahan hidup. Lagipula larimu lebih cepat
dariku.”
“Tapi...”
“Cepat! Aku punya cara untuk menghindar darinya!”
“Benarkah?”
“Tentu saja. Apa kau tidak tahu siapa aku?”
Lee Jihye menganggukkan kepalanya dengan wajah lega. “Tunggu
sebentar! Aku pasti akan membawa bala bantuan!”
Beberapa detik setelah Lee Jihye menghilang, monster raksasa
berwarna hijau muncul dari dalam hutan. Itu adalah monster dengan tinggi lebih
dari 3 meter dengan aura yang mengerikan.
Sial, ternyata itu troll, bukan orc. Aku juga bohong saat
berkata aku punya cara untuk menghindarinya. Kemungkinan besar saat ini seluruh
partyku tidak akan bisa mengalahkan troll ini, karena itu bisa bertahan hidup
saja sudah bagus.
Grrr…
Troll itu melihatku dan langsung tersenyum sambil
menunjukkan giginya yang mengerikan. Dia membawa sebuah gada yang dipenuhi
fragmen-fragmen konstelasi yang sudah dia kalahkan.
Aku tersenyum kecut sambil terus memegang pedangku dengan
erat. Aku pasti mati jika terkena gada itu. Setidaknya itu yang akan terjadi
jika tidak ada yang menolongku.
Grrrrrrr!
Sejak awal pulau ini tidak mungkin diselesaikan dengan cara
normal. Seperti biasanya, pasti ada kepingan tersembunyi di semua skenario yang
terlihat tidak mungkin diselesaikan. Menurut novel aslinya, ini adalah waktu
bagi mereka untuk muncul.
Saat suara Troll itu menjadi semakin keras, aku bisa
mendengar suara pedang yang menusuk sesuatu. Sedetik kemudian aku melihat
pedang familiar sedang tertancap di perut Troll itu. Itu adalah pedang milik
Lee Jihye.
“Aku tahu ini akan terjadi. Dasar paman pembohong.”
< Seorang admiral tidak akan meninggalkan rekannya, meski itu
berakhir dengan kematian. >
This operation was possible from the beginning because I
believed in Lee Jihye. The angry troll drew out the sword and made a strange
noise. The wound was restored in an instant. It threw the sword and Lee Jihye
laughed from beside me.
Operasi ini mungkin dilakukan karena aku percaya pada Lee
Jihye. Troll itu merasa marah dan meraung dengan keras, dia langsung menarik pedang
yang tertancap di perutnya dan melemparkannya. Beberapa saat kemudian luka di
perut troll itu sembuh total tanpa menyisakan bekas luka. Lee Jihye yang sedang
berdiri di sebelahku tertawa keras.
“Ayo mati bersama, paman.”
Troll itu berlari ke arah kami sambil tertawa. Lee Jihye
tidak akan mati. Sejarah hidupnya pasti akan menyelamatkannya. Saat gada Troll
itu jatuh, aku bisa mendengar suara dari dalam hutan.
... Dia datang. Sebuah pedang silver membelah kegelapan
malam. Aku melihatnya dengan seksama. Pedang biasa yang tidak terbuat dari
ether itu membelah leher Troll dengan sangat mudah.
< Tema favorit dari generasi pertama adalah cinta, persahabatan, dan
romansa. >
Generasi pertama. Salah satu cerita tertua di Star Stream.
Master dari cerita itu sekarang sedang berbicara, “Mengorbankan nyawa untuk
rekanmu? Ini yang pertama sejak 381 tahun yang lalu.”
Aku menatapnya dengan lebih seksama. Ternyata ada lebih dari
satu orang di sana.
“Tidak perlu bicara lagi. Mereka teman dekat.”
“Benar. Ternyata masih ada cerita bagus di luar sana.”
Suara tawa itu menyebar dengan cepat. Ada yang aneh di sini.
Ini tidak ada di novel aslinya. Beberapa saat kemudian aku melihat wajah dari
orang-orang yang berjalan keluar dari gelapnya hutan.
“Sudah lama tidak bertemu. Apa di dunia luar sana baru
berjalan tiga tahun lamanya?”
Yang tidak kuduga, dia adalah seseorang yang kukenal.
Chapter 358 DaftarIsi Chapter 360

Komentar
Posting Komentar