ORV Chapter 355: Episode 66 – Beyond Good and Evil (5)

 Disclaimer: Novel ini bukan punya saya

🌟🌟🌟🌟

Mereka semua menunjukkan ekspresi yang berbeda ketika mendengar ceritaku. Jung Heewon membelalakkan matanya sedangkan Lee Jihye terlihat bingung. Lee Hyunsung menatapku dengan mata bulatnya, lalu Shin Yoosung…

< Kim Dok ja su dah sa lah pa ham. >

Aku mendengar suara Fourth Wall terdengar dalam kepalaku.

< Ini masih belum terlambat. >

Aku tidak tahu apakah suara itu berasal dari Fourth Wall sendiri ataukah dari lemahnya pikiranku. Fourth Wall selalu memantulkan perasaanku hingga titik tertentu, jadi mungkin keduanya terjadi di waktu yang sama. Meski begitu aku sudah membuat keputusan.

“Aku tahu ceritaku sulit dicerna.” Aku harus menceritakannya kepada mereka. “Karena itu aku akan menjelaskannya dari awal.”

Aku berbicara untuk waktu yang cukup lama. Suatu hari novel yang kubaca menjadi kenyataan. Dalam cerita itu aku bertemu mereka. Aku tidak menceritakan detail ceritanya, tapi di waktu yang sama aku tidak berbohong pada mereka.

Aku sudah mengenal mereka jauh sebelum aku bertemu dengan mereka. Aku sengaja tidak memberitahu mereka jika aku mengetahui masa depan. Jika aku memonopoli semua informasi itu sendirian dan menipu banyak orang. Aku menceritakan semuanya seakan aku sedang mengeluarkan semua kegelapan dalam diriku.

Han Sooyoung berdiri tidak jauh dari kami dan dia menatapku dengan alis tertekuk. Aku bisa mengerti perasaannya. Sama juga dengan Han Sooyoung dari regresi ke-1863.

Tapi aku tidak bisa hidup seperti Han Sooyoung. Cerita ini harus diselesaikan dengan benar, kaena itu beberapa cerita harus dikomunikasikan dengan benar. Ya…. Sama seperti Yoo Joonghyuk.

< “Aku Adalah regressor.” >

Mungkin Yoo Joonghyuk juga merasa seperti ini. Dia tahu apa yang akan terjadi di masa depan, menjalani cerita yang sama berulang kali lalu bertemu mereka di tiap regresi. Setelah itu… Dia mengirim mereka pergi. Aku bisa memahami perasaan Yoo Joonghyuk saat dia menceritakan semua itu dengan gamblang.

“… Karena itu, aku membawa kalian kemari.”

Ceritaku sudah selesai, tapi tidak ada seorangpun yang mengatakan apa-apa. Kurasa diamnya mereka bukan karena tidak memahami apa yang baru saja kuceritakan. Meski ceritanya cukup panjang, ini Adalah cerita yang bahkan bisa dipahami oleh anak kecil. Namun mereka tetap menutup mulut dan tidak mengatakan apa-apa.

Aku membungkukkan kepalaku dan berkata, “Aku ingin minta maaf kepada kalian semua. Aku minta maaf baru bisa menceritakannya sekarang.”

Aku ingin tahu apa yang sedang mereka pikirkan…. Apa yang mereka rasakan? Meski begitu aku tidak menggunakan skill Omniscient Reader’s Viewpoint pada mereka. Dalam situasi ini, skill itu hanya akan membuat mereka merasa dibohongi.

Aku ingin menggunakan kekuatanku sendiri tanpa bergantung pada skill apapun. Aku ingin percaya bahwa mereka akan membuat keputusan sesuai dengan bisikan hati masing-masing, bukan karena rayuanku.

Perlahan aku menatap mata Lee Jihye. Mata gadis itu terlihat merah. Saat aku melihatnya, aku langsung mengingat salah satu scene dalam novel.

< “Kalau begitu, Master mengetahui semua masa depan…” >

Ya, tatapan saat ini mirip dengan tatapannya setelah dia mendengar cerita Yoo Joonghyuk. Perlahan gadis itu membuka mulutnya, “Kalau begitu, selama ini paman sudah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan…”

Lee Jihye berbicara seakan dia sedang membaca script yang ada dalam novel. Karena itu aku juga memberikan respon yang sama.

< “Benar.” >

“Ya.”

Lee Jihye menggeratakkan giginya dan berkata, “Kalau begitu… Kenapa baru sekarang paman memberitahu kami?”

Sword Demon yang terluka itu sekarang sangat marah. Aku bisa memprediksi apa yang akan dia lakukan dari informasi yang kudapat dari dalam novel.

< “Kalau begitu, bagi paman kami ini apa!?” >

Bahu Lee Jihye bergetar dan dia menundukkan kepalanya. Apa yang terjadi setelah ini mulai muncul dalam benakku. Lee Jihye akan menghunus pedangnya dan mungkin dia akan langsung menyerangku karena tidak bisa menahan amarahnya.

Ya, kejadian seperti itu juga terjadi dalam novel. Akan tetapi, Lee Jihye yang ada di depanku memilih pilihan yang tidak kuduga. “Katakan saja paman memang bisa tahu apa yang terjadi masa depan.”

“…”

“Semua yang kami alami sudah direncanakan dan paman menggunakan kami untuk mencapai tujuan pribadimu. Katakan saja kalau kami ini memang karakter dari novel itu!” lee Jihye mulai menangis. Dia menyampaikan pertanyaannya padaku dengan air mata yang mengalir deras, “Kalau begitu kenapa…. Kenapa kau mengorbankan nyawamu berkali-kali demi kami?”

Saat aku melihat Lee Jihye menangis, aku membuka mulutku untuk memberikan jawaban, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Pertanyaannya sangat tidak terduga hingga aku tidak bisa menjawabnya…

“Jawab pertanyaanku! Kalau kami hanya karakter novel fiksi, kenapa paman mati berkali-kali untuk kami!?”

Itu adalah pertanyaan yang tidak bisa kujawab meski dengan semua informasi yang kudapat dari novel aslinya.

[‘Fourth Wall’ bergetar kencang.]

Lee Jihye menyeka air matanya, berjalan ke arahku dan memukul bahuku dengan keras. Setelah itu dia pergi keluar ruangan tanpa mengatakan apa-apa lagi.

“… Dokja-ssi, kita akan bicara nanti.”

Shin Yoosung menatap ragu ke arahku selama beberapa detik, tapi kemudian dia memilih untuk mengejar Lee Jihye yang keluar lebih dulu. Lee Hyunsung menatapku dengan tatapan kosong sebelum akhirnya dia berjalan keluar dengan kepala tertunduk.

Oran-orang yang masih bertahan dalam ruangan ini hanya Han Sooyoung, Lee Seolhwa, dan Lee Gilyoung. Anak laki-laki itu menatapku dengan tatapan yang sulit dijelaskan sedangkan Lee Seolhwa hanya bisa menundukkan kepalanya dengan ekspresi terkejut. Han Sooyoung menepuk bahu Lee Seolhwa dan kemudian berkata kepadaku, “Kim Dokja, keluar sebentar.”

***

Di sebuah kamar rumah sakit, aku menatap wajah ibu yang sedang tertidur. Aku memutuskan untuk pergi kemari karena semua anggota partyku tidak ada yang Kembali ke ruangan yang kami gunakan untuk berbicara.

Sejak operasi besar saat itu, ibu terus tertidur seperti ini. Matanya dan pipinya terlihat cekung. Saat menatap wajah itu, aku jadi teringat dengan ibu yang selalu kutemui di penjara. Saat itu apa yang ibu pikirkan saat tahu anaknya yang datang berkunjung hanya ingin membicarakan satu novel saja?

“Wajahmu terlihat suram.”

“… ibu sudah bangun?”

“Aku bangun saat kau masuk tadi.”

Suara ibu terdengar lemah tanpa energi. Aku membetulkan letak selimut ibu hingga menutup bagian lehernya. Ibu hanya tersenyum dan berkata, “Sepertinya hampir mati memang ada manfaatnya. Sekarang anak semata wayangku mau mengurus ibunya.”

“Cepatlah sembuh.”

“Bicaralah padaku. Apapun juga boleh.”

Aku agak kesulitan menentukan apa yang ingin kubicarakan dengan ibu, tapi pada akhirnya aku membicarakan novel yang sama. “Di regresi ke-154, Yoo Joonghyuk menceritakan pada semua anggota partynya jika dia adalah seorang regressor…”

“Apa kau sedang membicarakan kelompok yang ada dalam novel Cara Bertahan Hidup?”

“Bagaimana ibu bisa tahu?”

Ibu menjulurkan tangannya dan menggenggam tanganku, “Kau berpikir jika mereka akan menyalahkanmu. Kau berpikir mereka akan merasa dikhianati olehmu dan bertanya kenapa kau menyembunyikan semuanya dari mereka.”

“Sebenarnya kejadiannya tidak seperti itu.”

“Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan untuk meminta maaf.”

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.

“Jawab aku! Jika kami memang hanya karakter dari novel fiksi, kenapa paman berkali-kali mati untuk kami!?”

Teriakan Lee Jihye menggema di telingaku.

Ibu berkata, “Yang berhak memutuskan apa kau dimaafkan atau tidak bukan dirimu sendiri.”

“Kalau begitu…”

“Mungkin orang yang ada di belakangmu bisa memberikan pencerahan.”

Aku menolehkan kepalaku dan melihat Jung Heewon yang sedang berdiri di ambang pintu. Aku menganggukkan kepalaku pada ibu dan mengikuti wanita itu keluar dari kamar.

Jung Heewon menggaruk pipinya dan berkata, “Bisa kita bicara sekarang?”

Kami berjalan di koridor rumah sakit. Koridor ini terlihat sederhana karena tidak ada dekorasi apapun di dindingnya. Hm… Apa Yoo Joonghyuk yang mendesain tempat ini? Kurasa dia sudah melakukan banyak hal pada pabrik ini selama 3 tahun belakangan. Setelah kami berjalan selama beberapa saat aku akhirnya sadar jika kamar protagonis itu ada di ujung lorong ini.

Jung Heewon menatap keluar jendela dan berkata, “Terima kasih… Karena sudah menceritakannya padaku.”

Aku tidak tahu sebesar apa perjuangan Jung Heewon selama ini hingga dia berkata seperti itu. Situasi ini juga terasa semakin buruk karena aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku mengikuti apa yang dia lakukan dan bisa melihat anggota partyku di luar sana. Lee Gilyoung dan Shin Yoosung sedang bertengkar sedangkan Lee Hyunsung dan Lee Seolhwa sedang berusaha menenangkan Lee Jihye.

“Mereka semua akan baik-baik saja. Jihye mungkin butuh waktu agak lama tapi…”

“Heewon-ssi…”

Sebelum aku bisa menyelesaikan ucapanku, Jung Heewon tiba-tiba berbalik ke arahku dan menunjukkan senyum yang biasanya. Saat melihatnya aku langsung menutup mulutku. Jung Heewon bertanya, “Apa kau kaget karena aku baik-baik saja?”

“Bukan begitu.”

“Kurasa jawabannya iya.”

Jung Heewon sudah tahu sejak lama jika aku memiliki ‘informasi mengenai masa depan’. Mungkin di antara para karakter, dia adalah orang yang paling mengenalku.

Jung Heewon kemudian berkata sambil meregangkan badannya, “Ini bukan masalah besar. Ini Adalah dunia di mana monster dan dokkaebi benar-benar nyata. Novel yang berubah menjadi kenyataan itu… bukan sesuatu yang spesial.”

“…”

“Aku sekarang mengerti apa yang kau maksud di masa lalu. Alasan kenapa Dokja-ssi bilang aku tidak muncul di masa depan. Apa itu artinya aku tidak ada dalam novel yang kau baca?”

“… Ya.”

Aku bisa melihat Biyoo yang melayang seperti awan di atas kepala Shin Yoosung.

Jung Heewon berkata, “Kalau begitu aku bisa selamat hingga saat ini semuanya berkat Dokja-ssi.”

“Itu… Heewon-ssi…”

“Terima kasih karena telah menemukanku. Sungguh.”

Aku tahu itu. Aku sangat mengenal nada yang biasanya digunakan Jung Heewon untuk menggodaku. Meski begitu aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan padanya.

“Jangan merasa sedih dan depresi sendirian. Kau hanya perlu menatap ke depan dan menantikan apa yang akan terjadi di masa depan. Jika kau mau, kau bisa mempercepat promosiku. Nah, ayo berjabat tangan sekarang.”

Jung Heewon langsung menggenggam tanganku dengan sangat kuat. Perasaan hangat mulai memenuhi hatiku.

Aku menyambut tangan wanita itu sambil menggigit bibirku.

< Jung Heewon… Dia sedang tidak baik-baik saja. >

Aku bisa merasakan detak nadi milik Jung Heewon. Mungkin saja sekarang dia merasa sedih. Mungkin dia juga mengalami rasa sakit yang membuatnya sangat kepayahan…. Namun begitu...

Jung Heewon menggenggam erat tanganku selama beberapa saat sebelum melepaskannya. Setelah itu dia berkata, “Ngomong-ngomong Dokja-ssi, aku punya pertanyaan.”

“Tanyakan saja.”

“Jika dunia ini Adalah novel, pasti ada tokoh protagonisnya, kan?”

Seperti yang kuduga, Jung Heewon adalah wanita yang cepat tanggap. Aku memang menceritakan mengenai apa itu novel Cara Bertahan Hidup pada mereka semua, tapi aku tidak pernah mengatakan siapa protagonisnya. Tapi… jika dilihat dari ekspresinya yang sekarang, aku yakin Jung Heewon sudah bisa menebak siapa protagonis itu.

Jung Heewon menatap ke arah kamar yang ada ujung Lorong. “Apa karena dia kau terus bertarung?”

“Aku belum benar-benar berbicara padanya… tapi sepertinya memang begitu.”

“Karena kau yang memulainya, kau harus mengakhirinya dengan benar. Kau tahu itu kan?”

“Aku menganggukkan kepalaku.

“Dia bukan lawan yang mudah.”

Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa menghindarinya.

***

Selama dua hari belakangan ini, aku selalu berada di kamar Yoo Joonghyuk. Aku selalu berada di samping protagonis ini hingga aku tidak bisa bertemu anggota party lainnya. Aku merasa khawatir pada mereka, tapi aku memutuskan untuk tetap tenang. Aku percaya jika mereka membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya. Kurasa kami bisa membicarakan hal itu sekali lagi saat mereka semua sudah siap.

Yoo Joonghyuk masih belum sadar dari komanya.

“Luka di tubuhnya hampir sembuh. Kurasa masalahnya saat ini ada di mentalnya.”

“Masalah mental?”

“Sepertinya dia menolak untuk bangun…. Mungkin dia seperti ini karena mengalami sesuatu yang membuatnya sangat terkejut.”

Setelah mengucapkannya, Aileen mengganti pak cerita yang menempel pada tubuh Yoo Joonghyuk dan setelah itu berjalan keluar meninggalkan kami berdua di dalam sini.

Aku terus memperhatikannya dengan seksama hingga rasanya aku bisa melihat debu yang menempel di ujung hidungnya. Aku membuka mulut dan berkata, “Kau orang pertama yang mencekikku dan melemparku ke bawah jembatan.”

Aku tahu dia tidak bisa mendengarku, tapi aku masih tetap ingin mengatakannya.

< “Lepaskan tanganmu dan pergi, bajingan.”

“Aku percaya padamu. Kau benar-benar seorang prophet.” >

Aku mengingat pertemuan pertamaku dengannya di atas jembatan. Aku tertawa ketika mengingatnya kembali.

“Jujur saja, kau tidak berhak menyalahkanku untuk semua hal yang terjadi saat ini. Kau regressor kan… Sudah berapa banyak orang yang mati karenamu?”

Saat aku mulai berbicara, ingatan mulai mengalir seperti air terjun. Rasanya seakan aku baru saja membuka kotak Pandora yang sudah lama tertutup. Ya, aku sudah menghabiskan banyak waktu dengan orang ini.

“Kupikir aku adalah orang yang paling memahamimu, tapi sekarang aku sudah tidak tahu lagi. Kenapa kau melakukan hal itu saat kita melawan Flood of Disasters?”

< “…. Orang ini adalah companionku.” >

“Kenapa kau memanggilku companionmu? Kau biasanya tidak akan berkata seperti itu…. Lalu kau menusukku di Dark Castle… Padahal waktu itu aku bilang bunuh saja aku.”

< “Kim Dokja! Tidak! Kim Dokja!!” >

Semua memori itu membuat emosiku meluap. Scenario yang dulu terasa berbahaya dan serius pun berubah menjadi sebuah cerita saat semuanya telah berakhir. Kami saat ini kami tinggal Bersama dalam cerita-cerita itu.

“Meski begitu, aku merasa bersyukur dengan revolutionary game. Aku hidup saat itu karena keberadaanmu. Tapi itu masih terasa aneh. Kenapa kau menjual namaku saat mendarat di kompleks industri yang salah? Yah… mungkin kau memang sengaja melakukannya.”

Aku mengucapkan semua hal yang kupikirkan sampai rasa kantuk datang menghampiri. Benar juga, belakangan ini aku tidak cukup tidur…

Semua cerita terus mengalir meski kesadaranku mulai menghilang. Momen-momen di mana aku bertarung bersamanya terasa seperti sebuah scene dari novel aslinya.

Disaster of Questions. Korban terkuat. Peace Land. Kuburan scenario. Demon King Selection. Gigantomachia… Semua itu adalah medan pertarungan yang sangat sulit, dan aku selalu bertarung bersamanya. Aku kembali mengingat saat-saat itu.

‘Mungkin semuanya akan baik-baik saja.’

Jika dia adalah Yoo Joonghyuk yang kukenal, aku mungkin bisa meyakinkannya. Kami belum pernah membicarakan hal ini sebelumnya… Jadi bagaimana cara menjelaskan semua ini agar dia paham? Apa aku harus menjelaskannya selangkah demi selangkah? Tapi dia adalah Yoo Joonghyuk, bukan orang lain…

Sesaat kemudian aku bisa melihat punggung Yoo Joonghyuk di kejauhan. Aku berjalan mendekati sosok itu karena lupa jika semua ini hanyalah mimpi.

‘Yoo Joonghyuk.’

Di saat yang sama, kepalaku terasa sakit dan ada kata-kata yang muncul dalam kepalaku. Itu adalah salah satu scene di mana Yoo Joonghyuk dikhianati oleh Anna Croft dan hidup dengan sangat menderita.

Kata terakhir protagonis itu masih terpatri jelas dalam ingatanku.

< “Aku tidak akan pernah memaafkanmu.” >

Yoo Joonghyuk berbalik dan mengatakan kalimat itu padaku. Nafsu membunuh yang sangat kuat terpancar dari Black Demon Sword.

< “Kim Dokja.” >

Tiba-tiba ada sesuatu yang dingin menyentuh leherku dan aku langsung terbangun. Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan detak jantungku yang tidak karuan. Cahaya bulan temaram dari luar jendela menyinari kamar ini.

Perlahan aku menggosok mataku, kemudian aku menyadari ada sesuatu yang tidak benar di sini.

“…Yoo Jonghyuk?”

Tempat tidur Yoo Joonghyuk kosong dan aku tidak bisa melihat sosok itu di manapun, hanya ada Ringer’s Solution yang melayang di atas tempat tidur. Sontak aku bangun dari kursi saat menyadari hilangnya keberadaan Yoo Joonghyuk.

Di atas tempat tidur, aku bisa melihat jam saku dengan desain yang familiar. Waktu yang tersisa hingga Constellation and Demon War Adalah 26 hari.

Dan di hari yang sama, Yoo Joonghyuk meninggalkan Kim Dokja’s Company.

 

Chapter 354     Daftar Isi     Chapter 356


Komentar

Postingan Populer